Jumat, 25 Februari 2011

GUNUNG API DI INDONESIA

Sebuah gunung raksasa bawah laut ditemukan antara Sumbar dan Bengkulu. Gunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter. Pakar dari berbagai negara menyatakan, gunung tersebut sangat berbahaya bila terjadi letusan.
LIPI juga melaporkan, telah ditemukan banyak longsoran di Laut Mentawai yang bisa memicu terjadinya tsunami.
Tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat Sumatra, persisnya berada 330 km arah barat Kota Bengkulu.
Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.
Survei kelautan yang dilakukan bersama tim Indonesia, AS dan Perancis dengan kapal seismik Geowave Champion menegaskan banyaknya patahan curam dan longsoran yang berbahaya di sekitar perairan kepulauan Mentawai.

Longsoran
Longsoran yang ditemukan di Laut Mentawai diperkirakan mampu menimbulkan tsunami cukup besar, jika dipicu oleh gempa dengan kekuatan 6 SR. Hal itu dikemukakan Prof Satish Singh pakar geologi dari Institut de Physique du Globe (IPG), Perancis di Jakarta, Kamis (28.5) sebagaimana dilansir Antara.
Ia menegaskan, daerah perairan Kepulauan Mentawai telah diketahui merupakan daerah yang benar-benar terkunci secara tektonik, khususnya di Pulau Siberut, Sipora, dan Pagai, karena itu perlu diadakan survei lebih lanjut.
Pakar gempa dari Puslit Geoteknologi LIPI, Dr Danny Hilman membenarkan perkiraannya bahwa dalam 30 tahun ke depan kemungkinan gempa besar di kawasan perairan tersebut bisa sampai 50 persen.
Peta potensi akumulasi energi gempa ini ia dapat dari analisis rekaman data 27 stasiun GPS (global positioning system) dan data geologi dari terumbu karang.
Di wilayah penelitian sepanjang Siberut hingga Engano tersebut, juga ditemukan bekas tanah longsoran bawah laut yang sangat besar berkaitan dengan gempa-gempa yang terjadi sebelumnya.
“Jejak-jejak longsoran tersebut diperkirakan menjadi penyebab tsunami pada 1797 di Padang yang mencapai ketinggian 5 meter,” kata Danny.
Aplikasi teknologi dengan menggunakan metode seismik refleksi sekitar 1.700 km multi-chanel dengan penetrasi sampai kedalaman 50 km, kerjasama antara BPPT, LIPI, Departemen ESDM dan CGGVeritas serta IPG itu, urainya, diharapkan lebih memungkinkan pemahaman struktur geologi di kawasan tersebut.
Singh mengatakan, dengan teknologi ini akan diketahui secara jelas pola struktur seperti bidang batas antar kerak, distribusi dan geometri patahan dengan akar yang dalam, serta pergerakan bidang geser dari permukaan dasar laut.

Gunung
Gunung yang ditemukan di bawah Laut Sumatra merupakan ancaman bila meletus. “Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5) yang dilansir KCM.
Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330 km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.
“Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” katanya. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.
Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera.
Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.
Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam.Gunung raksasa yang ditemukan di perairan barat Sumatera mungkin memecahkan rekor sebagai gunung berapi terbesar di Indonesia. Demikian menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Gunung Kerinci yang tingginya sekitar 3.800 meter dan Gunung Semeru sekitar 3.600 meter kalah dengan gunung yang baru ditemukan di perairan Bengkulu tersebut. Kalau gunung ini memang benar gunung api, maka gunung ini merupakan gunung api terbesar di Indonesia,” kata Kepala PVMBG Badan Geologi, Bandung, Surono di Jakarta

Lokasi gunung tersebut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, terletak kira-kira 330 km dari Bengkulu. Tingginya diperkirakan 4.600 meter dengan puncaknya ada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Diameternya diperkirakan sekitar 50 km.

Ia memprediksi, gunung api yang ditemukan itu sebelumnya pernah beberapa kali meletus sehingga material-material letusannya membuat gunung itu semakin besar seperti sekarang ini. Menurut Surono, para peneliti harus meneliti lebih lanjut untuk mengetahui kepastian gunung merapi itu, seperti tingkat keaktifan magmanya, memiliki lubang pada bagian atasnya sebagai tempat untuk keluar letusan dan lainnya.

Bila gunung itu merupakan gunung berapi, lanjut Surono, akan sangat berbahaya bila meletus. Gunung api yang berada di tengah laut itu bisa menimbulkan gelombang besar di permukaan laut, bahkan tsunami. Oleh sebab itu, perlu ada perhatian serius dari pemerintah untuk mengantisipasi hal itu.

“Para peneliti juga harus melakukan pengawasan dan pemantauan mengenai kondisi gunung tersebut serta membuat peta rawan bencana di sekitar gunung itu sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Surono memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada para peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral CGG Veritas dan Institut de Physique Globe Paris yang menemukan gunung api raksasa tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar